
Sarung Tinju – Kemenangan Islam Makhachev atas Jack Della Maddalena di UFC 322 menjadi salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah UFC modern. Pertarungan yang berlangsung di Madison Square Garden itu tidak hanya menegaskan kedewasaan teknik Makhachev, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seorang mantan juara kelas ringan mampu beradaptasi di kelas yang lebih besar. Sejak awal, atmosfer arena terasa berbeda seolah publik tahu bahwa mereka akan menyaksikan momen penting. Dari sudut pandang teknis, transisi Makhachev ke welter adalah langkah strategis yang penuh risiko, namun ia membuktikan bahwa kualitas elite tidak mengenal batas kelas.
“Baca juga: UFC 322 Predictions: Duel Penentu Karier Para Bintang Utama“
Pada ronde pertama, Islam Makhachev tampil dengan blueprint yang sangat jelas. Ia menekan, memotong sudut, dan memaksa Maddalena bergerak mundur. Tekanan konstan ini membuat sang juara bertahan kehilangan kesempatan untuk mengatur jarak. Bahkan, beberapa kali Makhachev berhasil mengambil punggung lawan dan mencoba mengunci lehernya, meski Maddalena masih cukup segar untuk bertahan. Bagi saya, ronde pembuka ini adalah pesan: Makhachev ingin menunjukkan bahwa pertarungan lima ronde bukan alasan baginya untuk menahan intensitas.
Memasuki ronde kedua, Maddalena sempat memberikan momen kecil perubahan arah pertandingan. Satu pukulan kanan telak mengenai dagu Makhachev, memaksa petarung Rusia itu bergerak mundur. Namun, transisi cepat khas Makhachev muncul ia langsung mengganti posisi dengan takedown halus sebelum menghujani Maddalena dengan siku dan pukulan pendek. Teknik grappling-nya terlihat semakin matang, dan dominasi ground control menjadi pondasi yang tak bisa dibalas Maddalena.
Pada ronde ketiga, Maddalena mencoba membangun ritme dengan memanfaatkan kombinasi jab dan hook. Namun, Islam Makhachev kembali merusak momentum itu dengan tendangan betis keras yang menghambat pergerakan sang juara bertahan. Setiap kali Maddalena ingin masuk, ia harus melewati ancaman takedown. Pola ini membuat Maddalena berada dalam jebakan taktis: menyerang berarti membuka peluang untuk ditarik ke lantai, sedangkan bertahan berarti menerima tekanan berkelanjutan.
Seiring pertarungan berjalan, kelihaian Makhachev memadukan striking dan grappling menjadi cerita tersendiri. Ia kembali menggunakan double-leg takedown yang sulit diantisipasi, terutama ketika Maddalena mulai kehilangan mobilitas karena serangan kaki yang diterimanya. Dari posisi atas, Makhachev mencoba beberapa variasi kuncian leher. Meski tidak berhasil menyelesaikan pertarungan lewat submission, kendalinya yang hampir sempurna membuat Maddalena hanya mampu bertahan tanpa balasan berarti. Dari sudut pandang psikologis, ini adalah ronde yang mematahkan mental sang juara bertahan.
“Baca juga: Islam Makhachev Dominasi Jack Della Maddalena untuk Rebut Gelar di UFC 322“
Pada ronde terakhir, Islam Makhachev tidak mengubah strategi. Ia tetap bermain sabar, akurat, dan sangat efisien. Takedown cepat kembali mendarat, dan Maddalena kembali terperangkap di bawah. Kontrol penuh ini membuat juri tidak memiliki keraguan sedikit pun. Ketika bel berbunyi, segalanya seolah sudah jelas. Makhachev bahkan tidak merayakan secara berlebihan; ia hanya tersenyum kecil, seakan mengetahui bahwa sabuk welter kini berada pada tempat yang tepat.
Keputusan juri 50-45, 50-45, dan 50-45 menjadi cermin dominasi total. Tidak ada satu ronde pun yang dianggap memihak Maddalena, dan ini menunjukkan betapa telitinya Makhachev mengeksekusi game plan. Menariknya, Maddalena langsung meninggalkan oktagon tanpa wawancara pasca-pertarungan, sebuah gestur yang menunjukkan betapa sulitnya menerima kekalahan tanpa memberi satu pun jawaban dalam 25 menit duel.
Sebagai seorang analis dan pencinta MMA, saya melihat kemenangan ini sebagai bukti evolusi petarung modern. Islam Makhachev kini menjadi salah satu dari sedikit petarung UFC yang mampu menguasai dua divisi berbeda. Keberhasilannya memperlihatkan bahwa disiplin, adaptasi, dan kecerdasan teknis bisa mengalahkan perbedaan ukuran maupun kekuatan murni. Dengan gelar welter yang kini berada di pinggangnya, Makhachev tidak hanya menambah catatan prestasi, tetapi juga memperkuat warisannya sebagai penerus ideal era Khabib. UFC 322 bukan sekadar kemenangan; ini adalah pernyataan bahwa ia masih berada di puncak dunia beladiri.