
Sarung Tinju – Federasi tinju dunia World Boxing Council (WBC) secara terbuka mengecam keputusan pemerintah Iran yang menjatuhkan hukuman mati kepada juara tinju nasional Mohammad Javad Vafaei Sani. Sikap tegas ini menjadi simbol solidaritas global terhadap kebebasan berekspresi dalam dunia olahraga. Presiden WBC, Mauricio Sulaimán Saldívar, menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan hanya melanggar hak asasi manusia, tetapi juga mencederai nilai-nilai dasar olahraga. Menurutnya, tinju adalah wadah pembentukan karakter dan keberanian, bukan alat untuk menghukum pandangan politik.
“Baca juga: UFC 322 Weigh-In: JDM vs Makhachev Panaskan New York Menjelang Duel Besar“
Reaksi keras terhadap kasus Mohammad Javad Vafaei Sani datang dari berbagai penjuru dunia. Lebih dari 20 atlet peraih medali Olimpiade ikut menandatangani surat terbuka menentang keputusan pemerintah Iran. Nama-nama besar seperti Martina Navratilova dan Sharron Davies turut ambil bagian dalam kampanye global tersebut. Dukungan ini menunjukkan bahwa dunia olahraga kini berdiri di garis depan dalam memperjuangkan keadilan. Menurut saya, langkah ini bukan sekadar bentuk empati, melainkan upaya konkret melawan penindasan yang mengancam kebebasan atlet di seluruh dunia.
Dalam pernyataannya, Mauricio Sulaimán menyoroti bahwa mengeksekusi seorang atlet karena pandangan politik adalah tindakan tidak manusiawi. Ia berkata, “Tinju menumbuhkan rasa hormat dan semangat memperbaiki diri bukan digunakan untuk menakut-nakuti rakyatnya.” Pernyataan ini menggambarkan bahwa olahraga, pada hakikatnya, adalah simbol perdamaian. Sebagai penulis yang mencermati dunia olahraga, saya menilai sikap Sulaimán menunjukkan ketegasan moral yang jarang dimiliki federasi besar di tengah tekanan geopolitik.
Kasus Mohammad Javad Vafaei Sani bermula pada tahun 2019, saat ia ditangkap karena ikut serta dalam demonstrasi besar-besaran di Iran. Sejak saat itu, kehidupannya berubah drastis. Selama lima tahun, ia dilaporkan mengalami penyiksaan, interogasi keras, dan isolasi berkepanjangan. Menurut organisasi hak asasi manusia, proses persidangan Sani berlangsung tidak adil, bahkan sarat pelanggaran prosedural. Fakta ini mengingatkan dunia pada kasus tragis Navid Afkari, pegulat nasional Iran yang dieksekusi pada tahun 2020 dengan tuduhan serupa. Seolah sejarah kelam itu kembali terulang di bawah rezim yang sama.
Menanggapi situasi tersebut, WBC menyerukan kepada PBB, IOC, dan seluruh federasi olahraga dunia untuk turun tangan. Mereka mendesak agar hukuman mati terhadap Mohammad Javad Vafaei Sani segera dibatalkan. Dalam pandangan pribadi saya, langkah ini menjadi bukti bahwa organisasi olahraga tak lagi bisa hanya diam di pinggir lapangan. Dunia olahraga kini memiliki peran moral untuk melindungi para atlet yang menjadi korban penindasan politik. Karena jika suara mereka dibungkam, maka nilai sejati dari sportivitas pun ikut terkubur.
Gelombang reaksi global terus meningkat sejak kasus ini mencuat ke publik. Banyak aktivis HAM menyerukan agar pemerintah Iran menghentikan pola kekerasan terhadap warganya sendiri, terutama mereka yang berasal dari dunia olahraga. Beberapa lembaga internasional seperti Amnesty International juga menilai hukuman mati terhadap Sani merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Di era modern ini, tindakan seperti itu tidak hanya mencoreng nama baik Iran, tetapi juga mengirim pesan bahwa kebebasan berpendapat masih menjadi hal berbahaya di beberapa negara.
“Baca juga: Joe Rogan Balas Kritik Pedas Ronda Rousey dengan Santai: “Dia Memang Punya Mental Pit Bull“
Kasus Mohammad Javad Vafaei Sani membuktikan bahwa olahraga dan politik sulit benar-benar dipisahkan. Dalam banyak kasus, atlet menjadi simbol suara rakyat yang tak mampu bersuara. Iran bukan satu-satunya negara yang menggunakan hukum sebagai alat represi terhadap atlet, namun kasus ini menjadi contoh paling mencolok dalam dekade terakhir. Dalam pandangan saya, dunia olahraga kini sedang menghadapi ujian moral besar: apakah akan tetap netral atau berani bersikap melawan ketidakadilan? Sikap WBC menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu diwujudkan di atas ring, tetapi juga di luar arena ketika kebenaran dipertaruhkan.
Tidak sedikit yang membandingkan nasib Mohammad Javad Vafaei Sani dengan Navid Afkari, pegulat yang dieksekusi pada 2020. Kedua kasus tersebut memiliki pola yang sama: partisipasi dalam demonstrasi, tuduhan politik, dan vonis hukuman mati. Perbedaannya hanya satu kali ini dunia tidak tinggal diam. Jika pada masa Afkari suara global terlambat bergema, maka kasus Sani menjadi momentum pembuktian bahwa solidaritas internasional bisa menyelamatkan nyawa. Hal ini menjadi cermin bahwa olahraga bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga perjuangan mempertahankan nilai kemanusiaan.
Presiden WBC menutup pernyataannya dengan seruan kuat: “Kami mendesak otoritas Iran untuk meninjau kembali keputusan ini.” Seruan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan panggilan moral bagi seluruh komunitas olahraga dunia. Saya percaya, ketika atlet berbicara untuk keadilan, dunia harus mendengarkan. Karena olahraga sejatinya adalah jembatan yang menyatukan manusia lintas bangsa, bukan alat untuk memecah atau menakut-nakuti. Kasus Mohammad Javad Vafaei Sani harus menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk kebebasan berekspresi belum berakhir.